Sobat CorPenLa, Taukah kamu dengan Semiotika? dan bagaimana aplikasinya terhadap penelitian ?? Mari kita simak artikel berikut....
Semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk
mengkaji tanda. Tanda-tanda adalah perangkat yang kita pakai dalam upaya
berusaha mencari jalan di dalam dunia ini,ditengah-tengah manusia, dan
bersama-sama manusia.
Kata “semiotika” itu sendiri berasal dari bahasa
Yunani,semeion yang berarti “tanda”atau same yang berarti “penafsir tanda”.
Semiotika berasal dari studi klasik dan skolastik atas seni logika, retorika,
dan poetika. “tanda”pada masa itu masih bermakna sesuatu hal yang menunjukan
pada adanya hal lain. Contohnya,asap menandai adanya api. Ahli sastra Teew
(1984:6) mendefinisikan semiotik adalah tanda sebagai tindak komunikasi dan
kemudian disempurnakannya menjadi model sastra yang
mempertanggungjawabkan semua faktor dan aspek hakiki untuk pemahaman gejala
susastra sebagai alat komunikasi yang khas di dalam masyarakat
manapun.
Jika diterapkan pada tanda-tanda
bahasa, maka huruf, kata, kalimat tidak memiliki arti pada dirinya sendiri.
Tanda-tanda itu hanya mengemban arti (significant) dalam kaitannya dengan
pembacanya. Pembaca itulah yang menghubungkan tanda dengan apa yang ditandakan
(signifie) sesuai dengan konvensi dalam system bahasa yang bersangkutan. Dalam
penelitian sastra,misalnya, kerap diperhatikan hubungan sintaksis antara
tanda-tanda (strukturalisme) dan hubungan antara tanda dan apa yang
ditandakan(semantik).,
Aplikasi
Semiotik Komunikasi
Suatu
penelitian semiotika umum akan dihadapkan pada berbagai batas kajian (A Theory
of Semiotika, Eco/1979). Beberapa diantaranya harus disepakati sementara,
sedangkan lainnya, menurut Eco, ditentukan oleh objek disiplin ilmu itu
sendiri. Eco, mengemukakan tiga batas hubungan dengan penelitian semiotika,
yaitu:
1.
Ranah Budaya
2.
Ranah Alam
3.
Ranah epistimologis
Bidang semiotika memang
dapat dikatakan bidang yang begitu luas. Bidang ini biasa berupa bidang
komunikatif yang tampak lebih ‘alamiah’ dan spontan pada system budaya yang
lebih kompleks. Bidang terapan semiotika pada bidang komunikasi tidak terbatas.
Misalnya,
bisa
mengambil objek penelitian mulai dari pemberitaan media massa, komunikasi periklanan, tanda-tanda
nonverbal, film, komik kartun, sastra sampai kepada musik. Pada komunikasi,
bidang terapan semiotika pun tidak terbatas. Adapun beberapa contoh aplikasi
semiotika di antara sekian banyak pilihan kajian semiotika dalam domain
komunikasi antara lain :
1.
Media
Mempelajari media adalah
mempelajari makna dari mana asalnya, seperti apa, seberapa jauh tujuannya,
bagaimanakah ia memasuki materi media, dan bagaimana ia berkaitan dengan
pemikiran kita sendiri.Dalam konteks media massa, khusunya media cetak kajian
semiotika adalah mengusut ideologi yang melatari pemberitaan.
Untuk teknik – teknik analisnya sendiri, secara
garis besar yang diterapkan adalah :
1.
Teknik
kuantitatif
Teknik ini adalah teknik yang
paling dapat mengatasi kekurangan dalam objektivitas, namun hasilnya sering
kurang mantap. Ciri – ciri yang dapat di ukur dinyatakan sebagai tanda
merupakan titik tolak penelitian ini. Menurut Van Zoest, (1993:146-147), hasil
analisis kuantitatif selalu lebih spektakuler namun sekaligus selalu
mengorbankan ketahanan uji metode – metode yang digunakan.
2.
Teknik
kualitatif
Pada analisis kualitatif, data –
data yang diteliti tidak dapat diukur secara matematis. Analisis ini sering
menyerang masalah yang berkaitan dengan arti atau arti tambahan dari istilah
yang digunakan.
Tiga pendekatan untuk menjelaskan media (McNair,
1994, dalam Sudibyo, 2001:2-4)
a.
Pendekatan Politik-Ekonomi
Pendekatan ini berpendapat bahwa
isi media lebih ditentukan oleh kekuatan – kekuatan ekonomi dan politik di luar
pengelolaan media.
b.
Pendekatan
Organisasi
Bertolak belakang dengan
pendekatan politik-ekonomi, pendekatan ini menekankan bahwa isi media
diasumsikan dipengaruhi oleh kekuatan – kekuatan eksternal di luar diri
pengelola media.
c.
Pendekatan
Kulturalis
Merupakan
pendekatan politik-ekonomi dan pendekatan organisasi. Proses produksi berita
dilihat sebagai mekanisme yang rumit yang melibatkan faktor internal media.
Media pada dasarnya memang mempunyai mekanisme
untuk menentukan pola dan aturan oragnisasi, tapi berbagai pola yang dipakai
untuk memaknai peristiwa tersebut tidak dapat dilepaskan dari kekuatan –
kekuatan politik-ekonomi di luar media. Secara teoritis, media massa bertujuan
menyampaikan informasi dengan benar secara efektif dan efisien. Namun, pada
praktiknya apa yang disebut sebagai kebenaran ini sangat ditentukan oleh
jalinan banyak kepentingan.
Terdapat pemilahan atas fakta
atau informasi yang dianggap penting dan yang dianggap tidak penting, serta
yang dianggap penting namun demi kepentingan survival menjadi tidak perlu
disebar luaskan. Media menyunting bahkan menggunting realitas dan kemudian
memolesnya menjadi suatu kemasan yang layak disebar luaskan.
Tiga zona dalam teori media menurut Berger dan Luckman :
1. Orders and practices of signification = Tatanan
dan praktik – praktik signifikasi.
2. Orders and practises of power = Tatanan dan
praktik – praktik kekuasaan.
3. Orders and practises of production = Tatanan dan
praktik – praktik produksi.
Praktik – praktik kekuasaan media memiliki banyak
bentuk ( John B. Thomson, 1994) antara lain:
·
Kekuasaan Ekonomi : dilembagakan dalam industri dan
perdagangan
·
Kekuasaan Politik : dilembagakan dalam aparatur Negara
·
Kekuasaan Koersif : dilembagakan dalam organisasi militer
dan paramiliter
2. Periklanan
Dalam perspektif semiotika iklan
dikaji lewat sistem tanda dalam iklan, yang terdiri atas 2 lambang yakni lambang
verbal (bahasa) dan lambang non verbal (bentuk dan warna yang disajikan dalam
iklan).Dalam menganalisis iklan, beberapa hal yang perlu diperhatikan antara
lain (Berger) :
·
Penanda dan petanda
·
Gambar, indeks, symbol
·
Fenomena sosiologi
·
Sifat daya tarik yang dibuat
untuk menjual produk
·
Desain dari iklan
·
Publikasi yang ditemukan dalam
iklan dan khayalan yang diharapkan oleh publikasi tersebut.
Lain halnya dengan model Roland Barthes, iklan
dianalisis berdasarkan pesan yang dikandungnya yaitu:
·
Pesan Linguistik : Semua kata
dan kalimat dalam iklan
·
Pesan yang terkodekan : Konotasi yang muncul
dalam foto iklan
·
Pesan ikonik yang tak terkodekan : Denotasi dalam foto iklan
3. Tanda NonVerbal
Komunikasi nonverbal adalah semua
tanda yang bukan kata – kata dan bahasa.
Tanda – tanda digolongkan dalam berbagai cara :
· Tanda yang ditimbulkan oleh alam yang kemudian
diketahui manusia melalui pengalamannya.
· Tanda yang ditimbulkan oleh binatang
· Tanda yang ditimbulkan oleh manusia, bersifat
verbal dan nonverbal.
Namun tidak keseluruhan tanda –
tanda nonverbal memiliki makna yang universal. Hal ini dikarenakan tanda –
tanda nonverbal memiliki arti yang berbeda bagi setiap budaya yang lain.Dalam
hal pengaplikasian semiotika pada tanda nonverbal, yang penting untuk diperhatikan
adalah pemahaman tentang bidang nonverbal yang berkaitan dengan benda konkret,
nyata, dan dapat dibuktikan melalui indera manusia.
Pada dasarnya, aplikasi atau
penerapan semiotika pada tanda nonverbal bertujuan untuk mencari dan menemukan
makna yang terdapat pada benda – benda atau sesuatu yang bersifat nonverbal.
Dalam pencarian makna tersebut, menurut Budianto, ada beberapa hal atau
beberapa langkah yang perlu diperhatikan peneliti, antara lain :
·
Langkah Pertama : Melakukan survai lapangan untuk mencari
dan menemukan objek penelitian yang sesuai dengan keinginan si peneliti.
·
Langkah Kedua : Melakukan pertimbangan terminologis
terhadap konsep –konsep pada tanda nonverbal.
·
Langkah Ketiga : Memperhatikan perilaku nonverbal,
tanda dan komunikasi terhadap objek yang ditelitinya.
·
Langkah Keempat : Merupakan langkah terpenting menentukan
model semiotika yang dipilih untuk digunakan dalam penelitian. Tujuan
digunakannya model tertentu adalah pembenaran secara metodologis agar keabsahan
atau objektivitas penelitian tersebut dapat terjaga.
4. Film
Film merupakan bidang kajian yang amat relevan bagi
analisis struktural atau semiotika.
Van
Zoest—– film dibangun dengan tanda semata – mata. Pada
film digunakan tanda – tanda ikonis, yakni tanda – tanda yang menggambarkan
sesuatu. Gambar yang dinamis dalam film merupakan ikonis bagi realitas yang
dinotasikannya.Film umumnya dibangun dengan banyak tanda. Yang paling penting
dalam film adalah gambar and suara. Film menuturkan ceritanya dengan cara khususnya
sendiri yakni, mediumnya, cara pembuatannya dengan kamera dan pertunjukannya
dengan proyektor dan layar.
(Sardar & Loon) Film dan televisi memiliki bahasanya sendiri
dengan sintaksis dan tata bahasa yang berbeda. Film pada dasarnya bisa
melibatkan bentuk – bentuk simbol visual dan linguistik untuk mengkodekan pesan
yang sedang disampaikan.Figur utama dalam pemikiran semiotika sinematografi
hingga sekarang adalah Christian Metz dari Ecole des Hautes Etudes et Sciences
Sociales (EHESS) Paris. Menurutnya, penanda (signifant) sinematografis memiliki
hubungan motivasi atau beralasan dengan penanda yang tampak jelas melalui hubungan
penanda dengan alam yang dirujuk. Penanda sinematografis selalu kurang lebih
beralasan dan tidak pernah semena. 
Tidak ada komentar:
Posting Komentar